Rabu, 12 November 2008

Selasa, 28 Oktober 2008

Sadja

Sajak

PINTU
-untuk Muthaharah

yang masih berpetualang
kapan akan kembali ke kamar yang lengang ini
sejak fajar masih jauh di tiang malam
dan embun belum berada di pelukan rerumputan
pintu ini selalu terbuka untukmu yang berwajah masam

Yogyakarta, 2008


ELEGI

dan sunyi terus saja bergulir
menungguku di pintu terakhir
dengan sayap siang dan malam
kulewati pintu itu
kini, sunyi itu jadi senja
yang hanya ada di celah-celah siwalan

Madura, 2008


KERINDUAN


burung-burung datang menghampiriku
mereka bergeming:
”pulau dewata tak lagi cerah,
ia membutuhkan sebuah lentera,
karena gelap tak juga ingin singgah dari pangkuannya”

Bali, 2008


SAJAKKU
-i

dalam sajakku
kata-kata adalah igauanmu
merantau
mencari huruf-huruf yang hilang
kini, kata-kata itu jadi mimpi
yang menemaniku dalam imajinasi

Yogyakarta, 2008

Cerpen

INSOMNIA
Cerpen: Fajri Sadja*


“Hai anak insomnia!!!” Begitulah teman-teman memanggilku. Nama itu memang terasa aneh, dan agak mengejek. Tetapi itulah realitasnya. Aku lebih akrab dengan sebutan Insomnia. Nama itu sudah kental dan sudah mendarah daging dalam diriku. Dimana ada Insomnia, disitu juga ada aku. Dan dimana ada aku, disitu jugalah Insomnia akan ada. Insomnia tak ada, akupun juga tak ada. Insomnia tak ada, akupun juga tak ada. Begitulah perkataan teman-teman terhadap diriku. Teman-temanku semua lebih senang memanggilku dengan nama itu. Menurut mereka, Insomnia itu lebih gampang di ucapkan, dan juga menurut mereka, Insomnia itu adalah sebuah nama yang inspiratif. Maka dari itu teman-teman emoh memanggilku dengan namaku sendiri.
Tetapi yang aku herankan, entah kenapa, aku sendiri lebih nyaman di panggil dengan sebutan Insomnia. Mungkin nama itu memang pantas untuk diriku. Karena...??? Kadang aku lupa dengan namaku sendiri, yang notabeni nama pemberian orang tuaku. Aku berpikir, apakah aku berdosa kalau nama pemberian orang tuaku itu di ganti dengan nama yang lain? Kata orang-orang tempo dulu bahwa nama pemberian orang tua sangat sakral dan sebuah amanat. Dan menurut agama, amanat itu adalah sebuah titipan dan kepercayaan. Kalau amanat itu tidak dijaga maka hukumnya dosa. Apalagi kepercayaan itu dari seseorang yang sangat menyayangi kita, yang mana kasih sayangnya melebihi segalanya.
Pernah suatu ketika, waktu nenekku masih hidup, beliau cerita tentang asal-usul namaku. Mula-mula beliau cerita tentang hubungan asmara antara ibu dan ayah yang menurut beliau aneh dan sekaligus juga lucu. Nenek tertawa tanpa ada alasan, mungkin teringat akan masa lalu. “kenapa nenek? Nenek kok tertawa? Emang waktu ibu dan ayah masih pacaran, apanya yang lucu?” tanyaku penasaran. “enggak,” jawabnya sambil memegang perut. Mungkin perutnya sakit, karena mulai tadi tertawa terus. Setelah tertawanya selesai, nenek melanjutkan ceritanya. Beliau cerita ketika ibu menikah, mengandung, dan juga sampai ketika ibu melahirkan. “tentang namaku nek?” tambahku. Wajah nenek yang mulai tadi cerah dan bersinar, tiba-tiba saja berubah jadi kelam. Wajahnya seperti siang yang berubah jadi malam. Seperti senja yang cahayanya mulai tertidur di celah-celah siwalan. “kenapa nek? Nenek kok menangis? Kenapa tiba-tiba wajah nenek jadi muram?” tanyaku heran. “enggak ada apa-apa nduk,” jawabnya kaku. Dan sesekali tangannya mengelus-ngelus rambutku yang mulai gondrong, karena sudah hampir satu tahun tidak di potong.
Waktu itu perasaanku mengatakan kalau ada yang di sembunyikan oleh nenek. Entah itu apa. Jangan-jangan..... Ah, sudahlah itu paling perasaanku saja. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Apakah aku harus memaksa nenek untuk berbicara jujur dan tidak merahasiakan apapun? Aku bukan tipe orang yang pemaksa, yang semua kemauanku harus dituruti. Apalagi dia nenekku, dia adalah wanita yang sudah mengandung, dan melahirkan ibuku. Ya, aku hanya bisa mengernyitkan dahi. Tapi itu bukan berarti aku marah sama nenek karena tidak mau cerita. Apapun yang nenek perbuat terhadap diriku, entah itu membuatku senang atau susah, dia tetap nenekku, dan aku wajib menghormatinya.
Tangan nenek yang masih basah karena secara tidak sengaja di aliri air matanya, mengambil sebuah kotak yang di dalamnya berisi tisu yang letaknya tidak jauh dari tempat duduknya. Mungkin dengan cara itu nenek bisa menghilangkan kesedihannya, dan hilang bersama tisu yang di pakai untuk menghapus air matanya. Setelah air yang mengalir dari celah-celah kelopak matanya mulai kering, nenek melanjutkan ceritanya. Beliau berkata, “Ibulah yang mengandung kita selama sembilan bulan, dan selama sembilan itu, dia tidak bisa melakukan aktifitas apapun, beliau tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak lagi memikirkan dirinya, yang dia pikirkan hanyalah janin yang ada dalam kandungannya. Dan sembilan bulanpun berlalu, maka tiba saatnyalah ibu melahirkan. Yang mana pada waktu melahirkan itu, ibu kita berada antara hidup dan mati. Dan demi ingin kita lahir ke dunia, ibu rela memberikan nyawanya pada malaikat Israfil.”
Walaupun ibu tidak sempat melihat aku, dan tidak sempat mengucapkan namaku. Tetapi nenek bilang kalau sebelum ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia berwasiat kalau aku disuruh kasih nama sesuai dengan keinginannya. Aku ingin orang yang pertama kali mengucapkan namaku adalah ibuku. Karena kasih sayangnyalah, kalau sudah malam aku bisa menikmati indahnya bulan dan bisa mendengar suara kelelawar yang sedang mencuri mangga. Dan kalau aku sudah bosan pada bulan, aku masih bisa mengganti kebosananku dengan melihat matahari. Apalagi pada saat matahari masih baru bangun dari tidur, dan sinarnya berhamburan di celah-celah siwalan. Aku bisa menyaksikan semua itu karena ibu, ibu, karena ibu.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Insomnia mempunyai arti seseorang yang tidak bisa tidur. “Tidak bisa tidur? Kenapa? Apa yang kau pikirkan? Karena kamu tidak punyak uang? Atau karena perempuan? Jangan karena soal perempuan, hidupmu jadi kacau dan tidak karuan. Ada banyak hal yang masih perlu kau kerjakan dan lakukan ketimbang mempikirkan hal-hal yang absurd, yang tidak jelas arah dan orientasinya. Kamu kesini bukan untuk bermain, tapi untuk belajar. Belajar menjalani hidup, belajar untuk dewasa, dan juga untuk belajar-belajar yang lain.. Belajar, belajar, dan hanya untuk belajar,” suara itu masih juga tak ingin singgah dari di telingaku. Suara itu selalu mengikuti kemanapun kakiku melangkah.
Suara bedug mulai terdengar nyaring, mungkin sudah lebih dari tiga kali di tabuh. Suara thong-thong sudah tidak lagi menggema. Matahari mulai menumpahkan cahayanya. Ada yang jatuh ke bumi, dan juga ada cahayanya yang terbang ke langit. Sehingga warna langit yang biru muda berubah menjadi kemerahmerahan. Orang-orang mulai kembali ke aktifitasnya masing-masing. Ada yang berangkat ke kantor, kuliah, sekolah, dan ada juga yang cuman duduk-duduk santai di teras rumah. Dan aku seperti biasa, hanya duduk santai di kursi di halaman rumah menikmati indahnya matahari pagi.
Alarm sudah berbunyi, yang berarti sudah waktunya aku menjalankan aktifitas. Aku harus menjalani rutinitas seperti hari-hari biasa. Dan pagi ini aku ada jadwal kuliah. Setelah habis kuliah, aku masih ada acara pertemuan dengan seseorang, yang mana pertemuan itu sangat penting dan tidak bisa aku batalkan dan aku lewatkan. Dan kalau sekiranya pertemuan itu kubatalkan, mungkin aku akan selalu menikmati kesunyianku. Tetapi setelah aku mau beranjak bangun dan akan meninggalkan kursi. Tiba-tiba mataku tidak mengizinkanku untuk beranjak dan bangun. Ia masih ingin berada di dekat kursi, dan masih ingin menikmati pemandangan yang ada di depan rumahku.
“tadi malam, dan mulai kemaren-kemaren, aku selalu memanja kamu, aku turuti semua keinginanmu. Kamu menyuruhku kesana, aku kesana. Kamu menyuruhku kesini, aku kesini.” aku sedikit kaget, dan tidak percaya kalau mataku bisa bicara. “ya benar, ini aku, matamu. Kenapa? kaget?” ia mengintrogasiku. “karena keegoisanmu, aku jadi begini. Mentang-mentang aku cuman numpang sama kamu, kamu bisa berbuat apa saja sama aku, aku bukan budakmu, yang kamu bisa menyuruh dab berbuat seenaknya sama aku. Aku hanya numpang sama kumu, numpang, dan hanya numpang,” dia kembali bergumam, suaranyapun tambah kencang, sepertinya dia marah besar.
Apa yang harus aku lakukan? Aku terjepit oleh kesalahanku sendiri. Aku di kejar-kejar oleh mataku sendiri. Dia ingin membunuhku, dia ingin balas dendam, karena selama ini aku berbuat seenaknya sama dia. Dan dia baru sadar kalau selama ini aku hanya memanfaatkan dia. Aku memang salah, tetapi kan dia hanya mata. Tugas dia hanya melayani. Apalagi dia sudah lama numpang sama aku, jadi wajar kalau aku menyuruh ini itu sama dia. Zaman sekarang, apa sih yang tidak pakai imbalan? Ada orang yang baik sama kita, tetapi sebenarnya di balik semua kebaikannya itu, ada sesuatu yang diinginkan.

Yogyakarta, 2008

Minggu, 12 Oktober 2008