Rabu, 12 November 2008
Rabu, 05 November 2008
Selasa, 28 Oktober 2008
Sajak
PINTU
-untuk Muthaharah
yang masih berpetualang
kapan akan kembali ke kamar yang lengang ini
sejak fajar masih jauh di tiang malam
dan embun belum berada di pelukan rerumputan
pintu ini selalu terbuka untukmu yang berwajah masam
Yogyakarta, 2008
ELEGI
dan sunyi terus saja bergulir
menungguku di pintu terakhir
dengan sayap siang dan malam
kulewati pintu itu
kini, sunyi itu jadi senja
yang hanya ada di celah-celah siwalan
Madura, 2008
KERINDUAN
burung-burung datang menghampiriku
mereka bergeming:
”pulau dewata tak lagi cerah,
ia membutuhkan sebuah lentera,
karena gelap tak juga ingin singgah dari pangkuannya”
Bali, 2008
SAJAKKU
-i
dalam sajakku
kata-kata adalah igauanmu
merantau
mencari huruf-huruf yang hilang
kini, kata-kata itu jadi mimpi
yang menemaniku dalam imajinasi
Yogyakarta, 2008
-untuk Muthaharah
yang masih berpetualang
kapan akan kembali ke kamar yang lengang ini
sejak fajar masih jauh di tiang malam
dan embun belum berada di pelukan rerumputan
pintu ini selalu terbuka untukmu yang berwajah masam
Yogyakarta, 2008
ELEGI
dan sunyi terus saja bergulir
menungguku di pintu terakhir
dengan sayap siang dan malam
kulewati pintu itu
kini, sunyi itu jadi senja
yang hanya ada di celah-celah siwalan
Madura, 2008
KERINDUAN
burung-burung datang menghampiriku
mereka bergeming:
”pulau dewata tak lagi cerah,
ia membutuhkan sebuah lentera,
karena gelap tak juga ingin singgah dari pangkuannya”
Bali, 2008
SAJAKKU
-i
dalam sajakku
kata-kata adalah igauanmu
merantau
mencari huruf-huruf yang hilang
kini, kata-kata itu jadi mimpi
yang menemaniku dalam imajinasi
Yogyakarta, 2008
Cerpen
INSOMNIA
Cerpen: Fajri Sadja*
“Hai anak insomnia!!!” Begitulah teman-teman memanggilku. Nama itu memang terasa aneh, dan agak mengejek. Tetapi itulah realitasnya. Aku lebih akrab dengan sebutan Insomnia. Nama itu sudah kental dan sudah mendarah daging dalam diriku. Dimana ada Insomnia, disitu juga ada aku. Dan dimana ada aku, disitu jugalah Insomnia akan ada. Insomnia tak ada, akupun juga tak ada. Insomnia tak ada, akupun juga tak ada. Begitulah perkataan teman-teman terhadap diriku. Teman-temanku semua lebih senang memanggilku dengan nama itu. Menurut mereka, Insomnia itu lebih gampang di ucapkan, dan juga menurut mereka, Insomnia itu adalah sebuah nama yang inspiratif. Maka dari itu teman-teman emoh memanggilku dengan namaku sendiri.
Tetapi yang aku herankan, entah kenapa, aku sendiri lebih nyaman di panggil dengan sebutan Insomnia. Mungkin nama itu memang pantas untuk diriku. Karena...??? Kadang aku lupa dengan namaku sendiri, yang notabeni nama pemberian orang tuaku. Aku berpikir, apakah aku berdosa kalau nama pemberian orang tuaku itu di ganti dengan nama yang lain? Kata orang-orang tempo dulu bahwa nama pemberian orang tua sangat sakral dan sebuah amanat. Dan menurut agama, amanat itu adalah sebuah titipan dan kepercayaan. Kalau amanat itu tidak dijaga maka hukumnya dosa. Apalagi kepercayaan itu dari seseorang yang sangat menyayangi kita, yang mana kasih sayangnya melebihi segalanya.
Pernah suatu ketika, waktu nenekku masih hidup, beliau cerita tentang asal-usul namaku. Mula-mula beliau cerita tentang hubungan asmara antara ibu dan ayah yang menurut beliau aneh dan sekaligus juga lucu. Nenek tertawa tanpa ada alasan, mungkin teringat akan masa lalu. “kenapa nenek? Nenek kok tertawa? Emang waktu ibu dan ayah masih pacaran, apanya yang lucu?” tanyaku penasaran. “enggak,” jawabnya sambil memegang perut. Mungkin perutnya sakit, karena mulai tadi tertawa terus. Setelah tertawanya selesai, nenek melanjutkan ceritanya. Beliau cerita ketika ibu menikah, mengandung, dan juga sampai ketika ibu melahirkan. “tentang namaku nek?” tambahku. Wajah nenek yang mulai tadi cerah dan bersinar, tiba-tiba saja berubah jadi kelam. Wajahnya seperti siang yang berubah jadi malam. Seperti senja yang cahayanya mulai tertidur di celah-celah siwalan. “kenapa nek? Nenek kok menangis? Kenapa tiba-tiba wajah nenek jadi muram?” tanyaku heran. “enggak ada apa-apa nduk,” jawabnya kaku. Dan sesekali tangannya mengelus-ngelus rambutku yang mulai gondrong, karena sudah hampir satu tahun tidak di potong.
Waktu itu perasaanku mengatakan kalau ada yang di sembunyikan oleh nenek. Entah itu apa. Jangan-jangan..... Ah, sudahlah itu paling perasaanku saja. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Apakah aku harus memaksa nenek untuk berbicara jujur dan tidak merahasiakan apapun? Aku bukan tipe orang yang pemaksa, yang semua kemauanku harus dituruti. Apalagi dia nenekku, dia adalah wanita yang sudah mengandung, dan melahirkan ibuku. Ya, aku hanya bisa mengernyitkan dahi. Tapi itu bukan berarti aku marah sama nenek karena tidak mau cerita. Apapun yang nenek perbuat terhadap diriku, entah itu membuatku senang atau susah, dia tetap nenekku, dan aku wajib menghormatinya.
Tangan nenek yang masih basah karena secara tidak sengaja di aliri air matanya, mengambil sebuah kotak yang di dalamnya berisi tisu yang letaknya tidak jauh dari tempat duduknya. Mungkin dengan cara itu nenek bisa menghilangkan kesedihannya, dan hilang bersama tisu yang di pakai untuk menghapus air matanya. Setelah air yang mengalir dari celah-celah kelopak matanya mulai kering, nenek melanjutkan ceritanya. Beliau berkata, “Ibulah yang mengandung kita selama sembilan bulan, dan selama sembilan itu, dia tidak bisa melakukan aktifitas apapun, beliau tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak lagi memikirkan dirinya, yang dia pikirkan hanyalah janin yang ada dalam kandungannya. Dan sembilan bulanpun berlalu, maka tiba saatnyalah ibu melahirkan. Yang mana pada waktu melahirkan itu, ibu kita berada antara hidup dan mati. Dan demi ingin kita lahir ke dunia, ibu rela memberikan nyawanya pada malaikat Israfil.”
Walaupun ibu tidak sempat melihat aku, dan tidak sempat mengucapkan namaku. Tetapi nenek bilang kalau sebelum ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia berwasiat kalau aku disuruh kasih nama sesuai dengan keinginannya. Aku ingin orang yang pertama kali mengucapkan namaku adalah ibuku. Karena kasih sayangnyalah, kalau sudah malam aku bisa menikmati indahnya bulan dan bisa mendengar suara kelelawar yang sedang mencuri mangga. Dan kalau aku sudah bosan pada bulan, aku masih bisa mengganti kebosananku dengan melihat matahari. Apalagi pada saat matahari masih baru bangun dari tidur, dan sinarnya berhamburan di celah-celah siwalan. Aku bisa menyaksikan semua itu karena ibu, ibu, karena ibu.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Insomnia mempunyai arti seseorang yang tidak bisa tidur. “Tidak bisa tidur? Kenapa? Apa yang kau pikirkan? Karena kamu tidak punyak uang? Atau karena perempuan? Jangan karena soal perempuan, hidupmu jadi kacau dan tidak karuan. Ada banyak hal yang masih perlu kau kerjakan dan lakukan ketimbang mempikirkan hal-hal yang absurd, yang tidak jelas arah dan orientasinya. Kamu kesini bukan untuk bermain, tapi untuk belajar. Belajar menjalani hidup, belajar untuk dewasa, dan juga untuk belajar-belajar yang lain.. Belajar, belajar, dan hanya untuk belajar,” suara itu masih juga tak ingin singgah dari di telingaku. Suara itu selalu mengikuti kemanapun kakiku melangkah.
Suara bedug mulai terdengar nyaring, mungkin sudah lebih dari tiga kali di tabuh. Suara thong-thong sudah tidak lagi menggema. Matahari mulai menumpahkan cahayanya. Ada yang jatuh ke bumi, dan juga ada cahayanya yang terbang ke langit. Sehingga warna langit yang biru muda berubah menjadi kemerahmerahan. Orang-orang mulai kembali ke aktifitasnya masing-masing. Ada yang berangkat ke kantor, kuliah, sekolah, dan ada juga yang cuman duduk-duduk santai di teras rumah. Dan aku seperti biasa, hanya duduk santai di kursi di halaman rumah menikmati indahnya matahari pagi.
Alarm sudah berbunyi, yang berarti sudah waktunya aku menjalankan aktifitas. Aku harus menjalani rutinitas seperti hari-hari biasa. Dan pagi ini aku ada jadwal kuliah. Setelah habis kuliah, aku masih ada acara pertemuan dengan seseorang, yang mana pertemuan itu sangat penting dan tidak bisa aku batalkan dan aku lewatkan. Dan kalau sekiranya pertemuan itu kubatalkan, mungkin aku akan selalu menikmati kesunyianku. Tetapi setelah aku mau beranjak bangun dan akan meninggalkan kursi. Tiba-tiba mataku tidak mengizinkanku untuk beranjak dan bangun. Ia masih ingin berada di dekat kursi, dan masih ingin menikmati pemandangan yang ada di depan rumahku.
“tadi malam, dan mulai kemaren-kemaren, aku selalu memanja kamu, aku turuti semua keinginanmu. Kamu menyuruhku kesana, aku kesana. Kamu menyuruhku kesini, aku kesini.” aku sedikit kaget, dan tidak percaya kalau mataku bisa bicara. “ya benar, ini aku, matamu. Kenapa? kaget?” ia mengintrogasiku. “karena keegoisanmu, aku jadi begini. Mentang-mentang aku cuman numpang sama kamu, kamu bisa berbuat apa saja sama aku, aku bukan budakmu, yang kamu bisa menyuruh dab berbuat seenaknya sama aku. Aku hanya numpang sama kumu, numpang, dan hanya numpang,” dia kembali bergumam, suaranyapun tambah kencang, sepertinya dia marah besar.
Apa yang harus aku lakukan? Aku terjepit oleh kesalahanku sendiri. Aku di kejar-kejar oleh mataku sendiri. Dia ingin membunuhku, dia ingin balas dendam, karena selama ini aku berbuat seenaknya sama dia. Dan dia baru sadar kalau selama ini aku hanya memanfaatkan dia. Aku memang salah, tetapi kan dia hanya mata. Tugas dia hanya melayani. Apalagi dia sudah lama numpang sama aku, jadi wajar kalau aku menyuruh ini itu sama dia. Zaman sekarang, apa sih yang tidak pakai imbalan? Ada orang yang baik sama kita, tetapi sebenarnya di balik semua kebaikannya itu, ada sesuatu yang diinginkan.
Yogyakarta, 2008
Cerpen: Fajri Sadja*
“Hai anak insomnia!!!” Begitulah teman-teman memanggilku. Nama itu memang terasa aneh, dan agak mengejek. Tetapi itulah realitasnya. Aku lebih akrab dengan sebutan Insomnia. Nama itu sudah kental dan sudah mendarah daging dalam diriku. Dimana ada Insomnia, disitu juga ada aku. Dan dimana ada aku, disitu jugalah Insomnia akan ada. Insomnia tak ada, akupun juga tak ada. Insomnia tak ada, akupun juga tak ada. Begitulah perkataan teman-teman terhadap diriku. Teman-temanku semua lebih senang memanggilku dengan nama itu. Menurut mereka, Insomnia itu lebih gampang di ucapkan, dan juga menurut mereka, Insomnia itu adalah sebuah nama yang inspiratif. Maka dari itu teman-teman emoh memanggilku dengan namaku sendiri.
Tetapi yang aku herankan, entah kenapa, aku sendiri lebih nyaman di panggil dengan sebutan Insomnia. Mungkin nama itu memang pantas untuk diriku. Karena...??? Kadang aku lupa dengan namaku sendiri, yang notabeni nama pemberian orang tuaku. Aku berpikir, apakah aku berdosa kalau nama pemberian orang tuaku itu di ganti dengan nama yang lain? Kata orang-orang tempo dulu bahwa nama pemberian orang tua sangat sakral dan sebuah amanat. Dan menurut agama, amanat itu adalah sebuah titipan dan kepercayaan. Kalau amanat itu tidak dijaga maka hukumnya dosa. Apalagi kepercayaan itu dari seseorang yang sangat menyayangi kita, yang mana kasih sayangnya melebihi segalanya.
Pernah suatu ketika, waktu nenekku masih hidup, beliau cerita tentang asal-usul namaku. Mula-mula beliau cerita tentang hubungan asmara antara ibu dan ayah yang menurut beliau aneh dan sekaligus juga lucu. Nenek tertawa tanpa ada alasan, mungkin teringat akan masa lalu. “kenapa nenek? Nenek kok tertawa? Emang waktu ibu dan ayah masih pacaran, apanya yang lucu?” tanyaku penasaran. “enggak,” jawabnya sambil memegang perut. Mungkin perutnya sakit, karena mulai tadi tertawa terus. Setelah tertawanya selesai, nenek melanjutkan ceritanya. Beliau cerita ketika ibu menikah, mengandung, dan juga sampai ketika ibu melahirkan. “tentang namaku nek?” tambahku. Wajah nenek yang mulai tadi cerah dan bersinar, tiba-tiba saja berubah jadi kelam. Wajahnya seperti siang yang berubah jadi malam. Seperti senja yang cahayanya mulai tertidur di celah-celah siwalan. “kenapa nek? Nenek kok menangis? Kenapa tiba-tiba wajah nenek jadi muram?” tanyaku heran. “enggak ada apa-apa nduk,” jawabnya kaku. Dan sesekali tangannya mengelus-ngelus rambutku yang mulai gondrong, karena sudah hampir satu tahun tidak di potong.
Waktu itu perasaanku mengatakan kalau ada yang di sembunyikan oleh nenek. Entah itu apa. Jangan-jangan..... Ah, sudahlah itu paling perasaanku saja. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Apakah aku harus memaksa nenek untuk berbicara jujur dan tidak merahasiakan apapun? Aku bukan tipe orang yang pemaksa, yang semua kemauanku harus dituruti. Apalagi dia nenekku, dia adalah wanita yang sudah mengandung, dan melahirkan ibuku. Ya, aku hanya bisa mengernyitkan dahi. Tapi itu bukan berarti aku marah sama nenek karena tidak mau cerita. Apapun yang nenek perbuat terhadap diriku, entah itu membuatku senang atau susah, dia tetap nenekku, dan aku wajib menghormatinya.
Tangan nenek yang masih basah karena secara tidak sengaja di aliri air matanya, mengambil sebuah kotak yang di dalamnya berisi tisu yang letaknya tidak jauh dari tempat duduknya. Mungkin dengan cara itu nenek bisa menghilangkan kesedihannya, dan hilang bersama tisu yang di pakai untuk menghapus air matanya. Setelah air yang mengalir dari celah-celah kelopak matanya mulai kering, nenek melanjutkan ceritanya. Beliau berkata, “Ibulah yang mengandung kita selama sembilan bulan, dan selama sembilan itu, dia tidak bisa melakukan aktifitas apapun, beliau tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak lagi memikirkan dirinya, yang dia pikirkan hanyalah janin yang ada dalam kandungannya. Dan sembilan bulanpun berlalu, maka tiba saatnyalah ibu melahirkan. Yang mana pada waktu melahirkan itu, ibu kita berada antara hidup dan mati. Dan demi ingin kita lahir ke dunia, ibu rela memberikan nyawanya pada malaikat Israfil.”
Walaupun ibu tidak sempat melihat aku, dan tidak sempat mengucapkan namaku. Tetapi nenek bilang kalau sebelum ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia berwasiat kalau aku disuruh kasih nama sesuai dengan keinginannya. Aku ingin orang yang pertama kali mengucapkan namaku adalah ibuku. Karena kasih sayangnyalah, kalau sudah malam aku bisa menikmati indahnya bulan dan bisa mendengar suara kelelawar yang sedang mencuri mangga. Dan kalau aku sudah bosan pada bulan, aku masih bisa mengganti kebosananku dengan melihat matahari. Apalagi pada saat matahari masih baru bangun dari tidur, dan sinarnya berhamburan di celah-celah siwalan. Aku bisa menyaksikan semua itu karena ibu, ibu, karena ibu.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Insomnia mempunyai arti seseorang yang tidak bisa tidur. “Tidak bisa tidur? Kenapa? Apa yang kau pikirkan? Karena kamu tidak punyak uang? Atau karena perempuan? Jangan karena soal perempuan, hidupmu jadi kacau dan tidak karuan. Ada banyak hal yang masih perlu kau kerjakan dan lakukan ketimbang mempikirkan hal-hal yang absurd, yang tidak jelas arah dan orientasinya. Kamu kesini bukan untuk bermain, tapi untuk belajar. Belajar menjalani hidup, belajar untuk dewasa, dan juga untuk belajar-belajar yang lain.. Belajar, belajar, dan hanya untuk belajar,” suara itu masih juga tak ingin singgah dari di telingaku. Suara itu selalu mengikuti kemanapun kakiku melangkah.
Suara bedug mulai terdengar nyaring, mungkin sudah lebih dari tiga kali di tabuh. Suara thong-thong sudah tidak lagi menggema. Matahari mulai menumpahkan cahayanya. Ada yang jatuh ke bumi, dan juga ada cahayanya yang terbang ke langit. Sehingga warna langit yang biru muda berubah menjadi kemerahmerahan. Orang-orang mulai kembali ke aktifitasnya masing-masing. Ada yang berangkat ke kantor, kuliah, sekolah, dan ada juga yang cuman duduk-duduk santai di teras rumah. Dan aku seperti biasa, hanya duduk santai di kursi di halaman rumah menikmati indahnya matahari pagi.
Alarm sudah berbunyi, yang berarti sudah waktunya aku menjalankan aktifitas. Aku harus menjalani rutinitas seperti hari-hari biasa. Dan pagi ini aku ada jadwal kuliah. Setelah habis kuliah, aku masih ada acara pertemuan dengan seseorang, yang mana pertemuan itu sangat penting dan tidak bisa aku batalkan dan aku lewatkan. Dan kalau sekiranya pertemuan itu kubatalkan, mungkin aku akan selalu menikmati kesunyianku. Tetapi setelah aku mau beranjak bangun dan akan meninggalkan kursi. Tiba-tiba mataku tidak mengizinkanku untuk beranjak dan bangun. Ia masih ingin berada di dekat kursi, dan masih ingin menikmati pemandangan yang ada di depan rumahku.
“tadi malam, dan mulai kemaren-kemaren, aku selalu memanja kamu, aku turuti semua keinginanmu. Kamu menyuruhku kesana, aku kesana. Kamu menyuruhku kesini, aku kesini.” aku sedikit kaget, dan tidak percaya kalau mataku bisa bicara. “ya benar, ini aku, matamu. Kenapa? kaget?” ia mengintrogasiku. “karena keegoisanmu, aku jadi begini. Mentang-mentang aku cuman numpang sama kamu, kamu bisa berbuat apa saja sama aku, aku bukan budakmu, yang kamu bisa menyuruh dab berbuat seenaknya sama aku. Aku hanya numpang sama kumu, numpang, dan hanya numpang,” dia kembali bergumam, suaranyapun tambah kencang, sepertinya dia marah besar.
Apa yang harus aku lakukan? Aku terjepit oleh kesalahanku sendiri. Aku di kejar-kejar oleh mataku sendiri. Dia ingin membunuhku, dia ingin balas dendam, karena selama ini aku berbuat seenaknya sama dia. Dan dia baru sadar kalau selama ini aku hanya memanfaatkan dia. Aku memang salah, tetapi kan dia hanya mata. Tugas dia hanya melayani. Apalagi dia sudah lama numpang sama aku, jadi wajar kalau aku menyuruh ini itu sama dia. Zaman sekarang, apa sih yang tidak pakai imbalan? Ada orang yang baik sama kita, tetapi sebenarnya di balik semua kebaikannya itu, ada sesuatu yang diinginkan.
Yogyakarta, 2008
Minggu, 12 Oktober 2008
Rabu, 17 September 2008
Tang Cerpen
Absurd
Cerpen: Fajri Andika*
Sebuah perjanjian yang tak kunjung selesai antara aku dan dia. Dia yang selama ini kuimpikan, kudambakan, kuidamkan, bahkan melebihi segalanya. Bagiku, dia adalah Ratu Bulqis, Siti Zulaiha, dan Siti Aisyah. Kalau sedang memujinya, bibirku tak bisa lagi melontarkan sebuah kata. Dia adalah seorang gadis yang beda dengan gadis yang lain. Gadis ini tidak cantik, tidak seksi, dan juga tidak manis. Tetapi, yang aku heran, kenapa dia tidak pernah ingin singgah dari hati dan perasaanku? Gadis ini membuat aku gila, membuat aku lupa, juga membuat aku menjadi seorang anak insomnia. Apakah ini yang dinamakan cinta?
Berawal dari sebuah pertemuan di malam yang panjang. Bukan malam minggu atau malam keramat. Tapi, malam yang menurutku dan menurut semua orang langka. Kenapa....?
Di bawah kilauan mahkota dan lambaian selendang sang ratu malam yang tepat berada di atas ubun-ubun kepala, saat itulah pertemuan kami dimulai. Kursi tua, bangku kosong, menjadi saksi bisu pertemuan kami. Suara jengkrik mulai sejak tadi bergeming di balik semak belukar, apakah dia sedang menyanyi atau hanya ingin mengintip kami?
Deg-dup, deg-dup, begitu seterusnya. Itu bukan suara langkah kaki atau suara kelelawar yang sedang mencari mangga. Jantungkulah yang mulai tadi berdegup kencang. Mungkin kecepatannya 150 Km/jam. Ya, kalau di hitung kecepatannya lebih cepat dari pembalap asal Italia (Valentino Rossi) yang namanya dicatat dalam buku sejarah sebagai pembalap yang memegang rekor tujuh kali juara dunia.
Hembusan angin malam semakin merasuki seluruh bagian tubuhku. Padahal aku sudah mengenakan jaket tebal hasil impor yang kubeli kemarin di Amsterdam, Belanda. Tetapi, Setelah ia datang, dan duduk di kursi yang kosong itu, semua jadi berubah. Wajah sang ratu malam jadi pucat, awan tidak lagi berarak, dan bintang menghentikan kerling matanya. Udara yang dingin yang mulai tadi memeluk tubuhku seketika sirna dan seolah tak ingin kembali ke pangkuanku.
“Oh,,, Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dia menjulurkan tangannya tepat di depan dadaku,” hatiku tak kuasa mengucapkan kata-kata itu. Dengan mata yang masih berbinar-binar, tanpa sepengetahuan matanya, kuperhatikan seluruh bagian tubuhnya mulai dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. “Astaghfirullah,” aku sedikit terkejut. Ini bidadari atau malaikat?
Dengan suara yang sedikit manja dia menyebutkan namanya. “amil,” akunya.
Dengan bibir yang semakin kaku, kusebutin namaku, ”Fajar.”
Dia hanya tersenyum, dan beberapa kali mencuri mataku.
Dengan suara musik thong-thong, yang terdengar samar di kejauhan, membuat suasana malam ini semakin romantis.
Ya, kami memang baru kenal. Tapi, kalau diingat-ingat sepertinya kami pernah bertemu. Entah kapan dan dimana? Ah, sudahlah, itu buatku enggak penting. Yang terpenting adalah semoga pertemuan malam ini bukanlah pertemuan yang terakhir. Semoga pertemuan ini adalah awal dari kisah kami. Dan diriku mengharap, semoga Tuhan menciptakan untuk mendampingiku. Bukan hanya di dalam suka, tapi juga duka.
Seluruh bagian dari tubuhku bergetar, mulai dari ujung kuku hingga ke ujung rambut. Semuanya diam, jengkerik tidak lagi menyanyi, dan pohon cemara yang mulai tadi bergoyang seketika tegak meskipun angin bertiup kencang. Dengan tubuh yang masih juga bergetar, dan alam yang masih juga diam, sesaat aku terbang melewati awan dan langit. “Untuk apa aku kesana?” hatiku bergeming. Akan kukatakan pada para penghuni angkasa raya, bahwa masih ada yang lebih terang dari bulan dan masih ada yang lebih berkilau dari bintang.
Tanpa aku sadar, dan secara spontan, dari suara yang paling dalam kutemukan sebuah diksi baru. Dan aku yakin kalau tidak ada penyair manapun yang bisa membuat kata-kata seperti yang ada dalam puisiku. Yang aku heran, kenapa aku bisa melahirkan sebuah kata-kata yang semanis itu? Padahal dalam seumur hidup, aku belum pernah merangkai kata. Memang benar, kata seorang penyair, kalau puisi itu tidak pernah bohong. Puisi bisa lahir ketika hati tidak kosong. Dan saat ini dialah yang menjadi kata-kata dalam puisiku.
sesosok perempuan
bergaun remang
menari-nari di bawah siraman bulan
sebuah ornamen menghiasi lehernya
apakah malaikat yang bersayap hitam putih itu
yang mengalungkannya?
engkau bukan Alejandra
Alejandra bukan engkau
engkau perempuan tengah malam
yang lahir dari kegelapan
Tanpa terasa bulan kian jauh dari mata, secara perlahan-lahan merapat di dinding malam. Tubuhnya terselimuti awan, seolah ia tidak rela jika sang ratu malam kedinginan. Dan selama pertemuan itu kami hanya diam, tanpa ada satu katapun yang keluar. Kami hanya saling melempar mata, dan sesekali saling tukar senyum.
Sang ratu malam sudah berpelukan dengan cakrawala, tapi kami hanya diam, diam, dan hanya diam. Mulut kami sangat sulit untuk di buka, dan kayaknya memang tidak mau untuk di buka. Bibir, lidah, tidak mau berkompromi, mereka egois dan hanya mementingkan diri mereka sendiri.
Sejenak aku berpikir, kenapa pertemuan ini harus ada kalau tidak di hiasi dengan perbincangan? Kenapa kami hanya diam?
Ada pepatah yang mengatakan (meskipun hati tidak bicara, tetapi sesungguhnya ia tahu dan lebih mengerti dari pada bibir yang selalu melontarkan kata-kata). Memang benar, tetapi kata-kata itu cocoknya untuk orang yang sedang menjalin hubungan asmara. Dan kata-kata itu sama sekali tidak cocok untuk diriku. Karena kalau dalam pertemuan ini hanya hati yang bicara dan bibir tidak ikut campur, maka pertemuan ini tidak ada artinya.
Hidup ini memang absurd, membuat kita jadi gila, dan juga membuat kita jadi seorang amnesia. Tak bisa di tolerir, seolah kehidupan ini menjajah kehidupan kita sendiri. Kita harus bisa menghadapi dan melawannya. Apapun itu resikonya. Kalau bisa, bukan kita yang dijajah kehidupan, tapi kehidupan itulah yang harus tunduk dan patuh pada kita.
Sekarang aku tak tahu harus berbuat apa agar bibir ini bisa melontarkan sebuah kata. Diriku seperti seorang penyair yang tidak menemukan diksi baru untuk melahirkan sebuah puisi.
Dengan sangat terpaksa aku harus mengakhiri pertemuan ini dengan perpisahan yang mengganjal hati. Aku yakin dia tidak menginginkan pertemuan seperti ini.
Seperti air mata yang mulai tadi membasahi pipi kami, dia pergi bersama gerimis yang baru saja menebarkan butiran-butirannya di taman kenangan ini. Seolah gerimis itu tidak tega melihat kami, dan menyuruh kami untuk segera berpisah.
Aku tidak akan pernah melupakan pertemuan malam ini, dan aku yakin kejadian ini tidak akan pernah pergi dari ingatanku. Tuhan, dia telah pergi meninggalkanku di altar sunyi. Menghentikan langkahku yang semakin menjauh. Kutitipkan sebuah puisi pada malam yang sepi, malam yang tak pernah kukenali. Dan malam ini adalah kisah kami.
Yogyakarta, 2008
Catatan:
Thong-thong= alat musik tradisional Madura
Cerpen: Fajri Andika*
Sebuah perjanjian yang tak kunjung selesai antara aku dan dia. Dia yang selama ini kuimpikan, kudambakan, kuidamkan, bahkan melebihi segalanya. Bagiku, dia adalah Ratu Bulqis, Siti Zulaiha, dan Siti Aisyah. Kalau sedang memujinya, bibirku tak bisa lagi melontarkan sebuah kata. Dia adalah seorang gadis yang beda dengan gadis yang lain. Gadis ini tidak cantik, tidak seksi, dan juga tidak manis. Tetapi, yang aku heran, kenapa dia tidak pernah ingin singgah dari hati dan perasaanku? Gadis ini membuat aku gila, membuat aku lupa, juga membuat aku menjadi seorang anak insomnia. Apakah ini yang dinamakan cinta?
Berawal dari sebuah pertemuan di malam yang panjang. Bukan malam minggu atau malam keramat. Tapi, malam yang menurutku dan menurut semua orang langka. Kenapa....?
Di bawah kilauan mahkota dan lambaian selendang sang ratu malam yang tepat berada di atas ubun-ubun kepala, saat itulah pertemuan kami dimulai. Kursi tua, bangku kosong, menjadi saksi bisu pertemuan kami. Suara jengkrik mulai sejak tadi bergeming di balik semak belukar, apakah dia sedang menyanyi atau hanya ingin mengintip kami?
Deg-dup, deg-dup, begitu seterusnya. Itu bukan suara langkah kaki atau suara kelelawar yang sedang mencari mangga. Jantungkulah yang mulai tadi berdegup kencang. Mungkin kecepatannya 150 Km/jam. Ya, kalau di hitung kecepatannya lebih cepat dari pembalap asal Italia (Valentino Rossi) yang namanya dicatat dalam buku sejarah sebagai pembalap yang memegang rekor tujuh kali juara dunia.
Hembusan angin malam semakin merasuki seluruh bagian tubuhku. Padahal aku sudah mengenakan jaket tebal hasil impor yang kubeli kemarin di Amsterdam, Belanda. Tetapi, Setelah ia datang, dan duduk di kursi yang kosong itu, semua jadi berubah. Wajah sang ratu malam jadi pucat, awan tidak lagi berarak, dan bintang menghentikan kerling matanya. Udara yang dingin yang mulai tadi memeluk tubuhku seketika sirna dan seolah tak ingin kembali ke pangkuanku.
“Oh,,, Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dia menjulurkan tangannya tepat di depan dadaku,” hatiku tak kuasa mengucapkan kata-kata itu. Dengan mata yang masih berbinar-binar, tanpa sepengetahuan matanya, kuperhatikan seluruh bagian tubuhnya mulai dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. “Astaghfirullah,” aku sedikit terkejut. Ini bidadari atau malaikat?
Dengan suara yang sedikit manja dia menyebutkan namanya. “amil,” akunya.
Dengan bibir yang semakin kaku, kusebutin namaku, ”Fajar.”
Dia hanya tersenyum, dan beberapa kali mencuri mataku.
Dengan suara musik thong-thong, yang terdengar samar di kejauhan, membuat suasana malam ini semakin romantis.
Ya, kami memang baru kenal. Tapi, kalau diingat-ingat sepertinya kami pernah bertemu. Entah kapan dan dimana? Ah, sudahlah, itu buatku enggak penting. Yang terpenting adalah semoga pertemuan malam ini bukanlah pertemuan yang terakhir. Semoga pertemuan ini adalah awal dari kisah kami. Dan diriku mengharap, semoga Tuhan menciptakan untuk mendampingiku. Bukan hanya di dalam suka, tapi juga duka.
Seluruh bagian dari tubuhku bergetar, mulai dari ujung kuku hingga ke ujung rambut. Semuanya diam, jengkerik tidak lagi menyanyi, dan pohon cemara yang mulai tadi bergoyang seketika tegak meskipun angin bertiup kencang. Dengan tubuh yang masih juga bergetar, dan alam yang masih juga diam, sesaat aku terbang melewati awan dan langit. “Untuk apa aku kesana?” hatiku bergeming. Akan kukatakan pada para penghuni angkasa raya, bahwa masih ada yang lebih terang dari bulan dan masih ada yang lebih berkilau dari bintang.
Tanpa aku sadar, dan secara spontan, dari suara yang paling dalam kutemukan sebuah diksi baru. Dan aku yakin kalau tidak ada penyair manapun yang bisa membuat kata-kata seperti yang ada dalam puisiku. Yang aku heran, kenapa aku bisa melahirkan sebuah kata-kata yang semanis itu? Padahal dalam seumur hidup, aku belum pernah merangkai kata. Memang benar, kata seorang penyair, kalau puisi itu tidak pernah bohong. Puisi bisa lahir ketika hati tidak kosong. Dan saat ini dialah yang menjadi kata-kata dalam puisiku.
sesosok perempuan
bergaun remang
menari-nari di bawah siraman bulan
sebuah ornamen menghiasi lehernya
apakah malaikat yang bersayap hitam putih itu
yang mengalungkannya?
engkau bukan Alejandra
Alejandra bukan engkau
engkau perempuan tengah malam
yang lahir dari kegelapan
Tanpa terasa bulan kian jauh dari mata, secara perlahan-lahan merapat di dinding malam. Tubuhnya terselimuti awan, seolah ia tidak rela jika sang ratu malam kedinginan. Dan selama pertemuan itu kami hanya diam, tanpa ada satu katapun yang keluar. Kami hanya saling melempar mata, dan sesekali saling tukar senyum.
Sang ratu malam sudah berpelukan dengan cakrawala, tapi kami hanya diam, diam, dan hanya diam. Mulut kami sangat sulit untuk di buka, dan kayaknya memang tidak mau untuk di buka. Bibir, lidah, tidak mau berkompromi, mereka egois dan hanya mementingkan diri mereka sendiri.
Sejenak aku berpikir, kenapa pertemuan ini harus ada kalau tidak di hiasi dengan perbincangan? Kenapa kami hanya diam?
Ada pepatah yang mengatakan (meskipun hati tidak bicara, tetapi sesungguhnya ia tahu dan lebih mengerti dari pada bibir yang selalu melontarkan kata-kata). Memang benar, tetapi kata-kata itu cocoknya untuk orang yang sedang menjalin hubungan asmara. Dan kata-kata itu sama sekali tidak cocok untuk diriku. Karena kalau dalam pertemuan ini hanya hati yang bicara dan bibir tidak ikut campur, maka pertemuan ini tidak ada artinya.
Hidup ini memang absurd, membuat kita jadi gila, dan juga membuat kita jadi seorang amnesia. Tak bisa di tolerir, seolah kehidupan ini menjajah kehidupan kita sendiri. Kita harus bisa menghadapi dan melawannya. Apapun itu resikonya. Kalau bisa, bukan kita yang dijajah kehidupan, tapi kehidupan itulah yang harus tunduk dan patuh pada kita.
Sekarang aku tak tahu harus berbuat apa agar bibir ini bisa melontarkan sebuah kata. Diriku seperti seorang penyair yang tidak menemukan diksi baru untuk melahirkan sebuah puisi.
Dengan sangat terpaksa aku harus mengakhiri pertemuan ini dengan perpisahan yang mengganjal hati. Aku yakin dia tidak menginginkan pertemuan seperti ini.
Seperti air mata yang mulai tadi membasahi pipi kami, dia pergi bersama gerimis yang baru saja menebarkan butiran-butirannya di taman kenangan ini. Seolah gerimis itu tidak tega melihat kami, dan menyuruh kami untuk segera berpisah.
Aku tidak akan pernah melupakan pertemuan malam ini, dan aku yakin kejadian ini tidak akan pernah pergi dari ingatanku. Tuhan, dia telah pergi meninggalkanku di altar sunyi. Menghentikan langkahku yang semakin menjauh. Kutitipkan sebuah puisi pada malam yang sepi, malam yang tak pernah kukenali. Dan malam ini adalah kisah kami.
Yogyakarta, 2008
Catatan:
Thong-thong= alat musik tradisional Madura
Selasa, 16 September 2008
Lukisan Amelia
sepotong bulan tidur dalam lukisanmu
ia tak ingin bangun
sebelum engkau menjadi malam
Yogyakarta, 2008
Elegi Tiga Bait
perantauanku kian menepi
tetapi, arloji masih juga mengikuti langkah kaki
bunga kamboja tak lagi menebarkan wangi
ia hanya bisa menikmati wanginya sendiri
kain kafan,
putihnya hilang dalam putih matamu
Yogyakarta, 2008
sepotong bulan tidur dalam lukisanmu
ia tak ingin bangun
sebelum engkau menjadi malam
Yogyakarta, 2008
Elegi Tiga Bait
perantauanku kian menepi
tetapi, arloji masih juga mengikuti langkah kaki
bunga kamboja tak lagi menebarkan wangi
ia hanya bisa menikmati wanginya sendiri
kain kafan,
putihnya hilang dalam putih matamu
Yogyakarta, 2008
Senin, 08 September 2008
Sajak Fajri
Amil
Aku hanya bisa memberimu kata
Secangkir puisi yang kusuguhkan
Biar kuteguk sendiri
Yogyakarta, 2008
Aku hanya bisa memberimu kata
Secangkir puisi yang kusuguhkan
Biar kuteguk sendiri
Yogyakarta, 2008
Kamis, 04 September 2008
Biografi Malam
aku memilihmu malam ini sebagai malamku
sebab, tak ada malam lain yang bisa menggelapkan sajakku
kata-kata terjungkal
di terpa angin yang datang dari seberang
ia jatuh dan berceceran di lantai
lalu, jadi batu
jadi abu
Madura, 2008
Monolog Seorang Musafir
sebuah arloji tertusuk bunga kamboja
Madura, 2008
aku memilihmu malam ini sebagai malamku
sebab, tak ada malam lain yang bisa menggelapkan sajakku
kata-kata terjungkal
di terpa angin yang datang dari seberang
ia jatuh dan berceceran di lantai
lalu, jadi batu
jadi abu
Madura, 2008
Monolog Seorang Musafir
sebuah arloji tertusuk bunga kamboja
Madura, 2008
Jumat, 23 Mei 2008
Sajak Malam
dalam sajak malam
kata-kata tertidur pulas
sebatang bulan yang kau tanam
mencari akar yang hilang
Yogyakarta, 2008
Teka-Teki Malam
aku bukan seperti malam yang kau pikirkan
malam yang memahat rindu dengan waktu
malam yang merayap di celah-celah almanak
malam hanyalah teka-teki
yang tidur di setiap arloji
aku tidak tercipta dari kegelapan
aku malam yang lahir dari malamku sendiri
Yogyakarta, 2008
dalam sajak malam
kata-kata tertidur pulas
sebatang bulan yang kau tanam
mencari akar yang hilang
Yogyakarta, 2008
Teka-Teki Malam
aku bukan seperti malam yang kau pikirkan
malam yang memahat rindu dengan waktu
malam yang merayap di celah-celah almanak
malam hanyalah teka-teki
yang tidur di setiap arloji
aku tidak tercipta dari kegelapan
aku malam yang lahir dari malamku sendiri
Yogyakarta, 2008
Minggu, 18 Mei 2008
Selasa, 29 April 2008
Selasa, 22 April 2008
SOLILOKUI
Di jalan sunyi
Lonceng telah berbunyi
Menghentikan langkahku yang semakin menjauh
Dulu, sebelum pergi
Kutitipkan sebuah puisi
Pada malam yang sepi
Malam yang tak pernah kukenali
Masihkah ia ada
Atau sudah menjadi kisah
Gowok/Yogyakarta, 170408
ORKESTRA MALAM
Sekarang siapa yang akan menjagamu, malam
Bulan telah pergi
Meninggalkanmu di altar sunyi
Dengan sahaja, bintang kartika menatapmu pucat
Ia melesat dengan cepat
Meninggalkan senja yang masih bercinta dengan siwalan
Butir-butir gerimis yang mengendap malam ini
Kujahit dengan tanganku yang amis
SA/Gowok/Yogyakarta, 200408
Di jalan sunyi
Lonceng telah berbunyi
Menghentikan langkahku yang semakin menjauh
Dulu, sebelum pergi
Kutitipkan sebuah puisi
Pada malam yang sepi
Malam yang tak pernah kukenali
Masihkah ia ada
Atau sudah menjadi kisah
Gowok/Yogyakarta, 170408
ORKESTRA MALAM
Sekarang siapa yang akan menjagamu, malam
Bulan telah pergi
Meninggalkanmu di altar sunyi
Dengan sahaja, bintang kartika menatapmu pucat
Ia melesat dengan cepat
Meninggalkan senja yang masih bercinta dengan siwalan
Butir-butir gerimis yang mengendap malam ini
Kujahit dengan tanganku yang amis
SA/Gowok/Yogyakarta, 200408
Rabu, 16 April 2008
KUTITIP PUISI DI MATAMU
Kutitip puisi di matamu
Namun aku lupa
Kata apa yang kutulis di bait pertama
Yogyakarta, 2008
HUJAN YANG SEDERHANA
Di hujan yang sederhana
Kita saling melempar mata
Kubalas lemparanmu dengan sebuah sajak
Waktu jadi cadas
Dan tak mau aku lepas
Ricik air membasahi sajakku
Yang dulu pernah beku
Huruf-hurufnya luntur
Mengalir bersama hujan di siang itu
Sebuah sajak baru tercipta
Ia lahir dari sepasang mata
Mata yang membuatku gila
Yogyakarta, 2008
ELEGI
;U
Mengigau:
Bagaimana membuat duka
Aku menyulam darah
Yang dulu kau sobek di suatu senja
Malam pun tiba
Namun tubuhmu yang mirip matahari
Masih juga menari di balik cakrawala
Yogyakarta, 2008
Kutitip puisi di matamu
Namun aku lupa
Kata apa yang kutulis di bait pertama
Yogyakarta, 2008
HUJAN YANG SEDERHANA
Di hujan yang sederhana
Kita saling melempar mata
Kubalas lemparanmu dengan sebuah sajak
Waktu jadi cadas
Dan tak mau aku lepas
Ricik air membasahi sajakku
Yang dulu pernah beku
Huruf-hurufnya luntur
Mengalir bersama hujan di siang itu
Sebuah sajak baru tercipta
Ia lahir dari sepasang mata
Mata yang membuatku gila
Yogyakarta, 2008
ELEGI
;U
Mengigau:
Bagaimana membuat duka
Aku menyulam darah
Yang dulu kau sobek di suatu senja
Malam pun tiba
Namun tubuhmu yang mirip matahari
Masih juga menari di balik cakrawala
Yogyakarta, 2008
Selasa, 01 April 2008
PERANTAUANKU SEMAKIN JAUH
Perantauanku semakin jauh
Menyudutkanku di ruang yang lengang
Ruang yang remang
Ruang tanpa damar
Ruang yang di asingkan
Perantauanku semakin jauh
Tak menentu
Senja telah berguling di kegelapan
Malam terasa asing bagiku
Malam tanpa butir-butir cahaya
Malam tanpa tarian mata laila
Perantauanku semakin jauh:
Sebuah arloji masih juga menggantung di leherku
Aku melangkah dan berjalan di atas almanak
Namun tubuhmu yang terbungkus cahaya
Tak bisa juga kuraba
Kasih, di jalan mana lagi
Kita bisa saling melempar mata
Yogyakarta, 2008
CELOTEH MALAM
Menggantung puisi di leher malam
Kau membacanya di tepi jurang
Kata adalah tanda
Yang lahir dari rahim cahaya
Di kaki cakrawala
Malam berceloteh
Tentang bulan yang membungkusnya
Dengan surat warna merah
Almanak telah habis di jilat arloji
Tetapi, tanggal-tanggal yang ada di dalamnya
Terus membuntuti
Kemanapun malam pergi
Yogyakarta, 2008
PERJAMUAN KEDUA
-Paraben Dhisa-
Suatu ketika
Di perjamuan kedua
Kita saling melempar kata
Kau suguhkan secawan madu
Kuteguk anggur tua
“mabuk, mabuk”
Katamu
"Walaupun mati, tak apa"
Kataku
Suatu ketika
Di perjamuan kedua
Kita saling melempar kata
Bagiku kau adalah penyair
Yang mati tenggelam dalam lautan kata
Yang ombaknya sendiri kau cipta
Yogyakarta, 2008
SEPERTI BINTANG KARTIKA
Seperti bintang kartika
Yang ada di bola matamu
Dengan sinarnya yang sahaja
Ia melesat dengan cepat
Dengan berpuluh pasang burung gagak
Bulan seakan sirna
Ia tidur dalam kolam
Dan hanya berkaca di pecahan air mata
Malam masih menyisakan ayat-ayatnya
Yang belum juga aku baca
Sementara firman-firmannya
Dan lembaran-lembarannya
Telah habis kujilat dengan kata-kata
Yogyakarta, 2008
PEREMPUAN TENGAH MALAM
Sesosok perempuan
Bergaun remang
Menari di bawah siraman bulan
Sebuah ornamen menghiasi lehernya
Apakah malaikat yang bersayap hitam putih itu
Yang mengalungkannya?
Aku bukan Alejandra
Alejandra bukan aku
Aku perempuan tengah malam
Yang lahir dari kegelapan
Yogyakarta, 2008
Perantauanku semakin jauh
Menyudutkanku di ruang yang lengang
Ruang yang remang
Ruang tanpa damar
Ruang yang di asingkan
Perantauanku semakin jauh
Tak menentu
Senja telah berguling di kegelapan
Malam terasa asing bagiku
Malam tanpa butir-butir cahaya
Malam tanpa tarian mata laila
Perantauanku semakin jauh:
Sebuah arloji masih juga menggantung di leherku
Aku melangkah dan berjalan di atas almanak
Namun tubuhmu yang terbungkus cahaya
Tak bisa juga kuraba
Kasih, di jalan mana lagi
Kita bisa saling melempar mata
Yogyakarta, 2008
CELOTEH MALAM
Menggantung puisi di leher malam
Kau membacanya di tepi jurang
Kata adalah tanda
Yang lahir dari rahim cahaya
Di kaki cakrawala
Malam berceloteh
Tentang bulan yang membungkusnya
Dengan surat warna merah
Almanak telah habis di jilat arloji
Tetapi, tanggal-tanggal yang ada di dalamnya
Terus membuntuti
Kemanapun malam pergi
Yogyakarta, 2008
PERJAMUAN KEDUA
-Paraben Dhisa-
Suatu ketika
Di perjamuan kedua
Kita saling melempar kata
Kau suguhkan secawan madu
Kuteguk anggur tua
“mabuk, mabuk”
Katamu
"Walaupun mati, tak apa"
Kataku
Suatu ketika
Di perjamuan kedua
Kita saling melempar kata
Bagiku kau adalah penyair
Yang mati tenggelam dalam lautan kata
Yang ombaknya sendiri kau cipta
Yogyakarta, 2008
SEPERTI BINTANG KARTIKA
Seperti bintang kartika
Yang ada di bola matamu
Dengan sinarnya yang sahaja
Ia melesat dengan cepat
Dengan berpuluh pasang burung gagak
Bulan seakan sirna
Ia tidur dalam kolam
Dan hanya berkaca di pecahan air mata
Malam masih menyisakan ayat-ayatnya
Yang belum juga aku baca
Sementara firman-firmannya
Dan lembaran-lembarannya
Telah habis kujilat dengan kata-kata
Yogyakarta, 2008
PEREMPUAN TENGAH MALAM
Sesosok perempuan
Bergaun remang
Menari di bawah siraman bulan
Sebuah ornamen menghiasi lehernya
Apakah malaikat yang bersayap hitam putih itu
Yang mengalungkannya?
Aku bukan Alejandra
Alejandra bukan aku
Aku perempuan tengah malam
Yang lahir dari kegelapan
Yogyakarta, 2008
Jumat, 28 Maret 2008
TATAPAN MATA KOSONG
Sepasang mata jalang
Menatap cahaya bulat di kaki cakrawala
Dengan suara parau
Burung-burung mendesis di kuping malam
Sesosok malaikat bersayap remang
Memutar-mutar jarum jam di lengan almanak
Puisi sebuah ornamen
Di ciptakan tanpa bahasa
Kaukah yang menggantungnya di leher cahaya?
Yogyakarta, 2008
SEBUAH SKETSA
Di ujung kanvas
Perempuan menari tanpa cahaya
Tubuhnya terbungkus gelombang
Dan lilin meleleh dari Matanya
Lukisanku buta
Meraba-raba yang tak ada
Tanpa coretan
Tanpa warna
Kini hanya tinggal sebuah sketsa
Yogyakarta, 2008
INSOMNIA
-W. Rovi-
Tidurlah, bersama se leter yang selalu memanja mimpimu
Biarkan meang merayap di kening bantalmu
Biar senja tak lagi tenggelam dalam hatimu
Yogyakarta, 2008
ENDECHA
Bunga rampai mengatup di dalam sajakmu
Wanginya semerbak dan mengepakkan sayap malaikat
Kau baca syair sedih
Di antara burung gagak
Burung gagak itu terbang
Melewati asap keminyan yang di sonson emakku
Dan kau tancapkan bendera setengah tiang
Di atas kuburan
Di samping batu nisan
Yang ada goresan namaku
Yogyakarta, 2008
PEREMPUAN TENGAH MALAM
Sesosok perempuan
Bergaun remang
Menari-nari di bawah siraman bulan
Sebuah ornamen menghiasi lehernya
Apakah malaikat yang bersayap hitam putih itu
Yang mengalungkannya?
Mengigau:
Aku bukan Alejandra
Alejandra bukan aku
Aku perempuan tengah malam
Yang lahir dari kegelapan
Yogyakarta, 2008
Sepasang mata jalang
Menatap cahaya bulat di kaki cakrawala
Dengan suara parau
Burung-burung mendesis di kuping malam
Sesosok malaikat bersayap remang
Memutar-mutar jarum jam di lengan almanak
Puisi sebuah ornamen
Di ciptakan tanpa bahasa
Kaukah yang menggantungnya di leher cahaya?
Yogyakarta, 2008
SEBUAH SKETSA
Di ujung kanvas
Perempuan menari tanpa cahaya
Tubuhnya terbungkus gelombang
Dan lilin meleleh dari Matanya
Lukisanku buta
Meraba-raba yang tak ada
Tanpa coretan
Tanpa warna
Kini hanya tinggal sebuah sketsa
Yogyakarta, 2008
INSOMNIA
-W. Rovi-
Tidurlah, bersama se leter yang selalu memanja mimpimu
Biarkan meang merayap di kening bantalmu
Biar senja tak lagi tenggelam dalam hatimu
Yogyakarta, 2008
ENDECHA
Bunga rampai mengatup di dalam sajakmu
Wanginya semerbak dan mengepakkan sayap malaikat
Kau baca syair sedih
Di antara burung gagak
Burung gagak itu terbang
Melewati asap keminyan yang di sonson emakku
Dan kau tancapkan bendera setengah tiang
Di atas kuburan
Di samping batu nisan
Yang ada goresan namaku
Yogyakarta, 2008
PEREMPUAN TENGAH MALAM
Sesosok perempuan
Bergaun remang
Menari-nari di bawah siraman bulan
Sebuah ornamen menghiasi lehernya
Apakah malaikat yang bersayap hitam putih itu
Yang mengalungkannya?
Mengigau:
Aku bukan Alejandra
Alejandra bukan aku
Aku perempuan tengah malam
Yang lahir dari kegelapan
Yogyakarta, 2008
KASIDAH MALAM
Malam kerontang
Di tengah kecamuk badai
Yang menyisakan keping-keping
kapal asmara di bibir pantai
rembulan terus berjalan
melangkah, menuju keabadian malam
meninggalkan matahari
yang menghanguskan gurun sahara
yang ada dalam ini diri
Madura, 2008
SOLITUDE
Ribuan kata terurai
Lewat sajak yang kau tulis pada cakarawala
Tintanya kau ambil dari segumpal darah
Kau meniti diatas samudera air mata
Meninggalkan senja yang mengintip dibalik siwaalan
Kau tak peduli pada matahari
Kau hanya ingin kesenyapan itu
Selalu menyelimuti hati
Madura, 2008
Malam kerontang
Di tengah kecamuk badai
Yang menyisakan keping-keping
kapal asmara di bibir pantai
rembulan terus berjalan
melangkah, menuju keabadian malam
meninggalkan matahari
yang menghanguskan gurun sahara
yang ada dalam ini diri
Madura, 2008
SOLITUDE
Ribuan kata terurai
Lewat sajak yang kau tulis pada cakarawala
Tintanya kau ambil dari segumpal darah
Kau meniti diatas samudera air mata
Meninggalkan senja yang mengintip dibalik siwaalan
Kau tak peduli pada matahari
Kau hanya ingin kesenyapan itu
Selalu menyelimuti hati
Madura, 2008
Langganan:
Postingan (Atom)


