PERANTAUANKU SEMAKIN JAUH
Perantauanku semakin jauh
Menyudutkanku di ruang yang lengang
Ruang yang remang
Ruang tanpa damar
Ruang yang di asingkan
Perantauanku semakin jauh
Tak menentu
Senja telah berguling di kegelapan
Malam terasa asing bagiku
Malam tanpa butir-butir cahaya
Malam tanpa tarian mata laila
Perantauanku semakin jauh:
Sebuah arloji masih juga menggantung di leherku
Aku melangkah dan berjalan di atas almanak
Namun tubuhmu yang terbungkus cahaya
Tak bisa juga kuraba
Kasih, di jalan mana lagi
Kita bisa saling melempar mata
Yogyakarta, 2008
CELOTEH MALAM
Menggantung puisi di leher malam
Kau membacanya di tepi jurang
Kata adalah tanda
Yang lahir dari rahim cahaya
Di kaki cakrawala
Malam berceloteh
Tentang bulan yang membungkusnya
Dengan surat warna merah
Almanak telah habis di jilat arloji
Tetapi, tanggal-tanggal yang ada di dalamnya
Terus membuntuti
Kemanapun malam pergi
Yogyakarta, 2008
PERJAMUAN KEDUA
-Paraben Dhisa-
Suatu ketika
Di perjamuan kedua
Kita saling melempar kata
Kau suguhkan secawan madu
Kuteguk anggur tua
“mabuk, mabuk”
Katamu
"Walaupun mati, tak apa"
Kataku
Suatu ketika
Di perjamuan kedua
Kita saling melempar kata
Bagiku kau adalah penyair
Yang mati tenggelam dalam lautan kata
Yang ombaknya sendiri kau cipta
Yogyakarta, 2008
SEPERTI BINTANG KARTIKA
Seperti bintang kartika
Yang ada di bola matamu
Dengan sinarnya yang sahaja
Ia melesat dengan cepat
Dengan berpuluh pasang burung gagak
Bulan seakan sirna
Ia tidur dalam kolam
Dan hanya berkaca di pecahan air mata
Malam masih menyisakan ayat-ayatnya
Yang belum juga aku baca
Sementara firman-firmannya
Dan lembaran-lembarannya
Telah habis kujilat dengan kata-kata
Yogyakarta, 2008
PEREMPUAN TENGAH MALAM
Sesosok perempuan
Bergaun remang
Menari di bawah siraman bulan
Sebuah ornamen menghiasi lehernya
Apakah malaikat yang bersayap hitam putih itu
Yang mengalungkannya?
Aku bukan Alejandra
Alejandra bukan aku
Aku perempuan tengah malam
Yang lahir dari kegelapan
Yogyakarta, 2008
Selasa, 01 April 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
