Absurd
Cerpen: Fajri Andika*
Sebuah perjanjian yang tak kunjung selesai antara aku dan dia. Dia yang selama ini kuimpikan, kudambakan, kuidamkan, bahkan melebihi segalanya. Bagiku, dia adalah Ratu Bulqis, Siti Zulaiha, dan Siti Aisyah. Kalau sedang memujinya, bibirku tak bisa lagi melontarkan sebuah kata. Dia adalah seorang gadis yang beda dengan gadis yang lain. Gadis ini tidak cantik, tidak seksi, dan juga tidak manis. Tetapi, yang aku heran, kenapa dia tidak pernah ingin singgah dari hati dan perasaanku? Gadis ini membuat aku gila, membuat aku lupa, juga membuat aku menjadi seorang anak insomnia. Apakah ini yang dinamakan cinta?
Berawal dari sebuah pertemuan di malam yang panjang. Bukan malam minggu atau malam keramat. Tapi, malam yang menurutku dan menurut semua orang langka. Kenapa....?
Di bawah kilauan mahkota dan lambaian selendang sang ratu malam yang tepat berada di atas ubun-ubun kepala, saat itulah pertemuan kami dimulai. Kursi tua, bangku kosong, menjadi saksi bisu pertemuan kami. Suara jengkrik mulai sejak tadi bergeming di balik semak belukar, apakah dia sedang menyanyi atau hanya ingin mengintip kami?
Deg-dup, deg-dup, begitu seterusnya. Itu bukan suara langkah kaki atau suara kelelawar yang sedang mencari mangga. Jantungkulah yang mulai tadi berdegup kencang. Mungkin kecepatannya 150 Km/jam. Ya, kalau di hitung kecepatannya lebih cepat dari pembalap asal Italia (Valentino Rossi) yang namanya dicatat dalam buku sejarah sebagai pembalap yang memegang rekor tujuh kali juara dunia.
Hembusan angin malam semakin merasuki seluruh bagian tubuhku. Padahal aku sudah mengenakan jaket tebal hasil impor yang kubeli kemarin di Amsterdam, Belanda. Tetapi, Setelah ia datang, dan duduk di kursi yang kosong itu, semua jadi berubah. Wajah sang ratu malam jadi pucat, awan tidak lagi berarak, dan bintang menghentikan kerling matanya. Udara yang dingin yang mulai tadi memeluk tubuhku seketika sirna dan seolah tak ingin kembali ke pangkuanku.
“Oh,,, Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dia menjulurkan tangannya tepat di depan dadaku,” hatiku tak kuasa mengucapkan kata-kata itu. Dengan mata yang masih berbinar-binar, tanpa sepengetahuan matanya, kuperhatikan seluruh bagian tubuhnya mulai dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. “Astaghfirullah,” aku sedikit terkejut. Ini bidadari atau malaikat?
Dengan suara yang sedikit manja dia menyebutkan namanya. “amil,” akunya.
Dengan bibir yang semakin kaku, kusebutin namaku, ”Fajar.”
Dia hanya tersenyum, dan beberapa kali mencuri mataku.
Dengan suara musik thong-thong, yang terdengar samar di kejauhan, membuat suasana malam ini semakin romantis.
Ya, kami memang baru kenal. Tapi, kalau diingat-ingat sepertinya kami pernah bertemu. Entah kapan dan dimana? Ah, sudahlah, itu buatku enggak penting. Yang terpenting adalah semoga pertemuan malam ini bukanlah pertemuan yang terakhir. Semoga pertemuan ini adalah awal dari kisah kami. Dan diriku mengharap, semoga Tuhan menciptakan untuk mendampingiku. Bukan hanya di dalam suka, tapi juga duka.
Seluruh bagian dari tubuhku bergetar, mulai dari ujung kuku hingga ke ujung rambut. Semuanya diam, jengkerik tidak lagi menyanyi, dan pohon cemara yang mulai tadi bergoyang seketika tegak meskipun angin bertiup kencang. Dengan tubuh yang masih juga bergetar, dan alam yang masih juga diam, sesaat aku terbang melewati awan dan langit. “Untuk apa aku kesana?” hatiku bergeming. Akan kukatakan pada para penghuni angkasa raya, bahwa masih ada yang lebih terang dari bulan dan masih ada yang lebih berkilau dari bintang.
Tanpa aku sadar, dan secara spontan, dari suara yang paling dalam kutemukan sebuah diksi baru. Dan aku yakin kalau tidak ada penyair manapun yang bisa membuat kata-kata seperti yang ada dalam puisiku. Yang aku heran, kenapa aku bisa melahirkan sebuah kata-kata yang semanis itu? Padahal dalam seumur hidup, aku belum pernah merangkai kata. Memang benar, kata seorang penyair, kalau puisi itu tidak pernah bohong. Puisi bisa lahir ketika hati tidak kosong. Dan saat ini dialah yang menjadi kata-kata dalam puisiku.
sesosok perempuan
bergaun remang
menari-nari di bawah siraman bulan
sebuah ornamen menghiasi lehernya
apakah malaikat yang bersayap hitam putih itu
yang mengalungkannya?
engkau bukan Alejandra
Alejandra bukan engkau
engkau perempuan tengah malam
yang lahir dari kegelapan
Tanpa terasa bulan kian jauh dari mata, secara perlahan-lahan merapat di dinding malam. Tubuhnya terselimuti awan, seolah ia tidak rela jika sang ratu malam kedinginan. Dan selama pertemuan itu kami hanya diam, tanpa ada satu katapun yang keluar. Kami hanya saling melempar mata, dan sesekali saling tukar senyum.
Sang ratu malam sudah berpelukan dengan cakrawala, tapi kami hanya diam, diam, dan hanya diam. Mulut kami sangat sulit untuk di buka, dan kayaknya memang tidak mau untuk di buka. Bibir, lidah, tidak mau berkompromi, mereka egois dan hanya mementingkan diri mereka sendiri.
Sejenak aku berpikir, kenapa pertemuan ini harus ada kalau tidak di hiasi dengan perbincangan? Kenapa kami hanya diam?
Ada pepatah yang mengatakan (meskipun hati tidak bicara, tetapi sesungguhnya ia tahu dan lebih mengerti dari pada bibir yang selalu melontarkan kata-kata). Memang benar, tetapi kata-kata itu cocoknya untuk orang yang sedang menjalin hubungan asmara. Dan kata-kata itu sama sekali tidak cocok untuk diriku. Karena kalau dalam pertemuan ini hanya hati yang bicara dan bibir tidak ikut campur, maka pertemuan ini tidak ada artinya.
Hidup ini memang absurd, membuat kita jadi gila, dan juga membuat kita jadi seorang amnesia. Tak bisa di tolerir, seolah kehidupan ini menjajah kehidupan kita sendiri. Kita harus bisa menghadapi dan melawannya. Apapun itu resikonya. Kalau bisa, bukan kita yang dijajah kehidupan, tapi kehidupan itulah yang harus tunduk dan patuh pada kita.
Sekarang aku tak tahu harus berbuat apa agar bibir ini bisa melontarkan sebuah kata. Diriku seperti seorang penyair yang tidak menemukan diksi baru untuk melahirkan sebuah puisi.
Dengan sangat terpaksa aku harus mengakhiri pertemuan ini dengan perpisahan yang mengganjal hati. Aku yakin dia tidak menginginkan pertemuan seperti ini.
Seperti air mata yang mulai tadi membasahi pipi kami, dia pergi bersama gerimis yang baru saja menebarkan butiran-butirannya di taman kenangan ini. Seolah gerimis itu tidak tega melihat kami, dan menyuruh kami untuk segera berpisah.
Aku tidak akan pernah melupakan pertemuan malam ini, dan aku yakin kejadian ini tidak akan pernah pergi dari ingatanku. Tuhan, dia telah pergi meninggalkanku di altar sunyi. Menghentikan langkahku yang semakin menjauh. Kutitipkan sebuah puisi pada malam yang sepi, malam yang tak pernah kukenali. Dan malam ini adalah kisah kami.
Yogyakarta, 2008
Catatan:
Thong-thong= alat musik tradisional Madura
Rabu, 17 September 2008
Selasa, 16 September 2008
Lukisan Amelia
sepotong bulan tidur dalam lukisanmu
ia tak ingin bangun
sebelum engkau menjadi malam
Yogyakarta, 2008
Elegi Tiga Bait
perantauanku kian menepi
tetapi, arloji masih juga mengikuti langkah kaki
bunga kamboja tak lagi menebarkan wangi
ia hanya bisa menikmati wanginya sendiri
kain kafan,
putihnya hilang dalam putih matamu
Yogyakarta, 2008
sepotong bulan tidur dalam lukisanmu
ia tak ingin bangun
sebelum engkau menjadi malam
Yogyakarta, 2008
Elegi Tiga Bait
perantauanku kian menepi
tetapi, arloji masih juga mengikuti langkah kaki
bunga kamboja tak lagi menebarkan wangi
ia hanya bisa menikmati wanginya sendiri
kain kafan,
putihnya hilang dalam putih matamu
Yogyakarta, 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
